Ibaratkan saat ini kita sedang berhenti sejenak di salah satu anak tangga. Tentunya kita tidak berada disana tiba-tiba tanpa ada satu langkah awal. Semua pasti harus dimulai dari anak tangga pertama, terbawah. Kitapun menapaki tangga pertama karena memiliki keyakinan, bahwa tangga itulah yang akan membantu kita naik ketingkat yang lebih tinggi.
Namun ada kalanya kita mengalami gangguan saat menapaki tangga, kaki kita kesemutan, kram, keseleo atau terpeleset, hingga harus turun dari tangga terakhir yang kita pijak. Mungkin karena kita lengah, sehingga kurang hati-hati. Atau mungkin juga karena kita terburu-buru ingin segera tiba dipuncak, sedangkan daya tahan kita masih kurang tangguh. Atau bisa jadi karena kita sebenarnya takut pada ketinggian, sehingga sekali saja menoleh kebawah, kaki kita lantas gemetar. Semua itu menjadikan kita nyaris menyerah, hingga mengurangi semangat kita yang tadinya menggebu-nggebu. Lalu kita mungkin akan berhenti ditangga itu, sambil menimbang-nimbang untuk tetap disana, turun atau melanjutkan perjalanan ke puncak.
Ternyata saat ketakutan kita mulai melanda, tanpa kita duga ada orang lain yang juga sedang menapaki tangga yang sama dengan kita. Ada yang tidak peduli dan terus saja berjalan, ada yang berhenti tapi menceramahi kita yang terdengar seperti cemoohan yang mematahkan keyakinan kita. Ada juga yang hanya diam. Sampai akhirnya kita bertemu seseorang yang akhirnya mau menemani kita lebih lama, untuk mendengar keluhan kita dan bahkan menyemangati kita, terlebih jika orang tersebut amat meyakini bahwa kaki kita cukup kuat untuk terus melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi.
Biasanya karena ada input seperti ini yang membuat kita kembali berani dan mengerahkan segala kemampuan yang selama ini tidak kita sadari, hingga akhirnya kita berani untuk maju lagi. Tapi sebenarnya yang lebih utama bukan semata tangga yang kita daki atau penyemangat yang tak henti ada disamping kita, tapi tanpa kita mau mencoba melihat kedalaman diri kita dan memberikan kesempatan untuk diri kita sendiri, semua itu akan menjadi sia-sia.
Kadang kita kurang bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita. Kita lebih sibuk menenggelamkan diri dengan meratapi kelemahan, sehingga kita lupa jika kita memiliki potensi yang juga harus kita olah dan kembangkan agar menjadi orang yang memiliki kekuatan untuk melangkah lebih jauh dan lebih tinggi. Saat kita tidak pernah belajar mengenal siapa diri kita, maka kita juga kesulitan untuk mempercayai diri kita sendiri. Maka dari itu, berilah ruang untuk diri kita dan meyakininya bahwa kita layak mencoba dan memberi diri kesempatan untuk melakukan banyak hal yang berbeda dan sungguh-sungguh. Suatu saat, ketika apa yang kita lakukan dipandang bermanfaat oleh orang lain, liriklah sedikit anak tangga dibelakang yang telah kita lewati, saat itulah kita akan menyadari sampai dimana kemampuan dan keyakinan dapat menuntun kita lebih jauh dari yang kita pikir sebelumnya.
Tentu, kita tak ingin berlama-lama berhenti, bukan? Mari saling menguatkan dalam langkah menuju ujung ketinggian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar