Label

Total Tayangan Halaman

Kamis, 24 Februari 2011

Memahami Reaksi Aksi Massa

Akhir - akhir ini kita disuguhi oleh maraknya aksi massa menghiasi layar televisi. Berita seputar ketidakpuasan masyarakat akan proses pemilihan Ketua Umum PSSI 2011 sangat menyita perhatian. Dunia persepak bolaan tanah air sedang panas. Bermula dari menghangatnya simpati masyarakat terhadap prestasi yang diraih oleh Timnas, membuat masyarakat menaruh harap akan adanya perkembangan yang signifikan pula di tubuh menejemen PSSI. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan prestasi yang telah diraih Timnas dalam Piala Asia 2011 lalu, serta kemajuan Timnas dimasa mendatang.

Suara - suara yang menuntut akan adanya reformasi ditubuh PSSI sebenarnya sudah lama terdengar, seiring dengan kemajuan prestasi Timnas. Namun, pasca Piala Asia suhu mulai memanas manakala dengan angkuhnya PSSI memboikot pemain Timnas yang turun berlaga membantu klub untuk ikut ambil bagian dalam Indonesian Super League. Dengan entengnya PSSI mencoret nama pemain yang tidak menurut versi mereka, dan dengan kekanak - kanakan mengajukan ancaman boikot dengan cara hendak melaporkan pada pihak FIFA.

Ternyata itu saja belum cukup. Entah bagaimana cara berpikir Ketua PSSI kita saat ini, begitu melihat adanya kompetitor lain dalam bursa pemilihan calon Ketua PSSI yang diharapkan oleh khalayak luas akan membawa angin segar dalam perkembangan dunia persepakbolaaan di tanah air, dengan entengnya memodifikasi peraturan sedemikian rupa untuk menggugurkan calon lain. Situasi seperti ini tentu saja semakin mempertebal rasa ketidakpuasan masyarakat pecinta bola kita terhadap kinerja jajaran petinggi PSSI dan tentunya Pemerintah terkait seharusnya bisa berbuat lebih untuk mencegah polemik ini agar masyarakat bisa lebih tenang.

Situasi berkembang menjadi lebih panas. Reformasi yang diinginkan berubah menjadi harapan akan revolusi. Disini terlihat, masyarakat kita yang tadinya mengkotakkan diri sesuai dengan klub yang ada ditempat yang sama dengan mereka, menjadi bersatu padu dari segala arah merubung PSSI baik di kantor pusat maupun yang bergerak di daerah asal masing - masing. Dalam satu suara mereka menginginkan segera berakhirnya sikap pemerintah, serta kebebalan Sang Ketua PSSI periode ini.


Tentunya ini fenomena yang menarik, manakala kondisi negara kita yang sedang tidak sehat, terutama kondisi ekonomi masyarakat kebanyakkan, tetapi animo dan kecintaan mereka terhadap kemajuan persepakbolaan negeri ini membuat mereka agak mengabaikan tersebut. Bisa dibayangkan, berapa banyak biaya yang harus mereka tanggung hanya untuk bisa menyampaikan harapan dan meluapkan emosi agar masalah ini segera direspon oleh pihak terkait.


Sampai dititik ini, kita masih juga belum melihat tindakan apa yang akan dilakukan pemerintah untuk menyelesaikannya. Kita hanya disuguhi sikap reaktif mereka yang buru-buru mengupayakan adanya penyelamatan kantor PSSI serta membubarkan para pendemo. Hal ini bukan tindakan signifikan yang terkait langsung dengan solusi pemilihan calon ketua PSSI, seperti yang dipertanyakan masyarakat. Sampai kapan situasi ini dibiarkan berlangsung? Apa yang sedang ditunggu?


Sempat terbesit dipikiran bahwa ini memang sengaja dibuat demikian, untuk mengalihkan fokus masyarakat terhadap kasus yang lebih besar. Tetapi menurut saya, semakin dibiarkannya masalah ini, akan semakin membuka mata masyarakat kita akan kegagalan sistem pemerintahan dalam memulihkan kembali kepercayaan masyarakat. Kita akan semakin jelas melihat, betapa permainan monopoli ini telah merusak seluruh bidang pemerintahan. Semua diatur oleh legitimasi uang. Celakanya, ini merqambah bidang olahraga yang dikenal memiliki jargon untuk menjunjung tinggi sportivitas. Sportivitas seperti apa yang sedang terjadi sekarang ini hanyalah spotivitas semu yang dapat dibeli oleh mereka yang punya pendukung finansial yang kuat.


Pada akhirnya kita diajak menunggu, sampai dimana kebebalan ini berlanjut. Besar harapan saya agar suporter bola khususnya dan masyarakat di Indonesia tetap solid untuk memperjuangkan revolusi ini, serta masih ada sedikit harap agar pemerintah mengkaji ulang aturan yang berlaku dengan lebih berani. Karena yang harus mereka takuti adalah masyarakatnya, bukan FIFA.


Yuk...,duduk berharap cemas demi mendengar kabar terbaru dari mereka..
ngopi lagi ahhh...