Kamis, 28 April 2011
What I'm Thinking of...: Tentang Belajar Mempercayai Diri
What I'm Thinking of...: Tentang Belajar Mempercayai Diri: "Ibaratkan saat ini kita sedang berhenti sejenak di salah satu anak tangga. Tentunya kita tidak berada disana tiba-tiba tanpa ada satu langka..."
Tentang Belajar Mempercayai Diri
Ibaratkan saat ini kita sedang berhenti sejenak di salah satu anak tangga. Tentunya kita tidak berada disana tiba-tiba tanpa ada satu langkah awal. Semua pasti harus dimulai dari anak tangga pertama, terbawah. Kitapun menapaki tangga pertama karena memiliki keyakinan, bahwa tangga itulah yang akan membantu kita naik ketingkat yang lebih tinggi.
Namun ada kalanya kita mengalami gangguan saat menapaki tangga, kaki kita kesemutan, kram, keseleo atau terpeleset, hingga harus turun dari tangga terakhir yang kita pijak. Mungkin karena kita lengah, sehingga kurang hati-hati. Atau mungkin juga karena kita terburu-buru ingin segera tiba dipuncak, sedangkan daya tahan kita masih kurang tangguh. Atau bisa jadi karena kita sebenarnya takut pada ketinggian, sehingga sekali saja menoleh kebawah, kaki kita lantas gemetar. Semua itu menjadikan kita nyaris menyerah, hingga mengurangi semangat kita yang tadinya menggebu-nggebu. Lalu kita mungkin akan berhenti ditangga itu, sambil menimbang-nimbang untuk tetap disana, turun atau melanjutkan perjalanan ke puncak.
Ternyata saat ketakutan kita mulai melanda, tanpa kita duga ada orang lain yang juga sedang menapaki tangga yang sama dengan kita. Ada yang tidak peduli dan terus saja berjalan, ada yang berhenti tapi menceramahi kita yang terdengar seperti cemoohan yang mematahkan keyakinan kita. Ada juga yang hanya diam. Sampai akhirnya kita bertemu seseorang yang akhirnya mau menemani kita lebih lama, untuk mendengar keluhan kita dan bahkan menyemangati kita, terlebih jika orang tersebut amat meyakini bahwa kaki kita cukup kuat untuk terus melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi.
Biasanya karena ada input seperti ini yang membuat kita kembali berani dan mengerahkan segala kemampuan yang selama ini tidak kita sadari, hingga akhirnya kita berani untuk maju lagi. Tapi sebenarnya yang lebih utama bukan semata tangga yang kita daki atau penyemangat yang tak henti ada disamping kita, tapi tanpa kita mau mencoba melihat kedalaman diri kita dan memberikan kesempatan untuk diri kita sendiri, semua itu akan menjadi sia-sia.
Kadang kita kurang bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita. Kita lebih sibuk menenggelamkan diri dengan meratapi kelemahan, sehingga kita lupa jika kita memiliki potensi yang juga harus kita olah dan kembangkan agar menjadi orang yang memiliki kekuatan untuk melangkah lebih jauh dan lebih tinggi. Saat kita tidak pernah belajar mengenal siapa diri kita, maka kita juga kesulitan untuk mempercayai diri kita sendiri. Maka dari itu, berilah ruang untuk diri kita dan meyakininya bahwa kita layak mencoba dan memberi diri kesempatan untuk melakukan banyak hal yang berbeda dan sungguh-sungguh. Suatu saat, ketika apa yang kita lakukan dipandang bermanfaat oleh orang lain, liriklah sedikit anak tangga dibelakang yang telah kita lewati, saat itulah kita akan menyadari sampai dimana kemampuan dan keyakinan dapat menuntun kita lebih jauh dari yang kita pikir sebelumnya.
Tentu, kita tak ingin berlama-lama berhenti, bukan? Mari saling menguatkan dalam langkah menuju ujung ketinggian.
Namun ada kalanya kita mengalami gangguan saat menapaki tangga, kaki kita kesemutan, kram, keseleo atau terpeleset, hingga harus turun dari tangga terakhir yang kita pijak. Mungkin karena kita lengah, sehingga kurang hati-hati. Atau mungkin juga karena kita terburu-buru ingin segera tiba dipuncak, sedangkan daya tahan kita masih kurang tangguh. Atau bisa jadi karena kita sebenarnya takut pada ketinggian, sehingga sekali saja menoleh kebawah, kaki kita lantas gemetar. Semua itu menjadikan kita nyaris menyerah, hingga mengurangi semangat kita yang tadinya menggebu-nggebu. Lalu kita mungkin akan berhenti ditangga itu, sambil menimbang-nimbang untuk tetap disana, turun atau melanjutkan perjalanan ke puncak.
Ternyata saat ketakutan kita mulai melanda, tanpa kita duga ada orang lain yang juga sedang menapaki tangga yang sama dengan kita. Ada yang tidak peduli dan terus saja berjalan, ada yang berhenti tapi menceramahi kita yang terdengar seperti cemoohan yang mematahkan keyakinan kita. Ada juga yang hanya diam. Sampai akhirnya kita bertemu seseorang yang akhirnya mau menemani kita lebih lama, untuk mendengar keluhan kita dan bahkan menyemangati kita, terlebih jika orang tersebut amat meyakini bahwa kaki kita cukup kuat untuk terus melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi.
Biasanya karena ada input seperti ini yang membuat kita kembali berani dan mengerahkan segala kemampuan yang selama ini tidak kita sadari, hingga akhirnya kita berani untuk maju lagi. Tapi sebenarnya yang lebih utama bukan semata tangga yang kita daki atau penyemangat yang tak henti ada disamping kita, tapi tanpa kita mau mencoba melihat kedalaman diri kita dan memberikan kesempatan untuk diri kita sendiri, semua itu akan menjadi sia-sia.
Kadang kita kurang bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita. Kita lebih sibuk menenggelamkan diri dengan meratapi kelemahan, sehingga kita lupa jika kita memiliki potensi yang juga harus kita olah dan kembangkan agar menjadi orang yang memiliki kekuatan untuk melangkah lebih jauh dan lebih tinggi. Saat kita tidak pernah belajar mengenal siapa diri kita, maka kita juga kesulitan untuk mempercayai diri kita sendiri. Maka dari itu, berilah ruang untuk diri kita dan meyakininya bahwa kita layak mencoba dan memberi diri kesempatan untuk melakukan banyak hal yang berbeda dan sungguh-sungguh. Suatu saat, ketika apa yang kita lakukan dipandang bermanfaat oleh orang lain, liriklah sedikit anak tangga dibelakang yang telah kita lewati, saat itulah kita akan menyadari sampai dimana kemampuan dan keyakinan dapat menuntun kita lebih jauh dari yang kita pikir sebelumnya.
Tentu, kita tak ingin berlama-lama berhenti, bukan? Mari saling menguatkan dalam langkah menuju ujung ketinggian.
Rabu, 27 April 2011
Tentang Keberanian Memilih
Orang yang berangkat perang, tidak akan berani jika tidak memiliki bekal senjata dan strategi yang memadai, sama saja mati konyol. Pun begitu, bila semuanya dia miliki namun tetap kalah, setidaknya ia kalah terhormat dan bukan menyerah begitu saja.
Sama halnya dengan keseharian kita. Di saat tertentu kita harus mengambil keputusan dengan pilihan yang sama sulitnya. Tentunya kita harus berpikir akan akibat dari setiap pilihan serta pada pilihan yang mana kita masih akan sanggup berdiri.
Kata berani ataupun sanggup, menyimpan makna bahwa kita mampu menghadapi sesuatu yang buruk, dan bukan hanya sekedar memilih.
Dengan menimbang lebih bijak, setidaknya kita tahu makna dibalik setiap proses, dan siap menghadapi resiko apapun dari setiap keputusan dan dalam hal apapun. Bahkan sekalipun ada rasa khawatir dan takut, karena yang terpenting adalah usaha untuk keluar melawan takut itu.
Sama halnya dengan keseharian kita. Di saat tertentu kita harus mengambil keputusan dengan pilihan yang sama sulitnya. Tentunya kita harus berpikir akan akibat dari setiap pilihan serta pada pilihan yang mana kita masih akan sanggup berdiri.
Kata berani ataupun sanggup, menyimpan makna bahwa kita mampu menghadapi sesuatu yang buruk, dan bukan hanya sekedar memilih.
Dengan menimbang lebih bijak, setidaknya kita tahu makna dibalik setiap proses, dan siap menghadapi resiko apapun dari setiap keputusan dan dalam hal apapun. Bahkan sekalipun ada rasa khawatir dan takut, karena yang terpenting adalah usaha untuk keluar melawan takut itu.
Minggu, 24 April 2011
Senin, 11 April 2011
Cerita Malam ( Untuk Mardikun )
Malaikat malam telah kembali
Membawa bidadari gemintang
Mencoba menembus dinding dingin
Dari balik batinmu
Yang selalu tak henti mencari arti
Aku balik bertanya.
Perlukah semua memiliki jawabnya?
Mengapa mata langit muncul diwaktu malam?
Mengapa bulir embun serasa kesejukkan surga?
Aku tak butuh!
Kala sel otak menyapa jantungku
Dan mereka menari tak beraturan
Aku hanya bisa menikmatinya tanpa suara
Layaknya sekarat dalam pesta sunyi
Kabut ini makin tebal,
Daun pun lelah didahan
Mengikhlaskan diri tertiup angin
Lalu jatuh tak berdaya dipelukkan bumi,
Kau tau sungguh, tak mampu
Pena ini terhenti
Kubayangkan genggamanmu terikat kuat
Dan aku dengan bebasnya berteriak
Tanda masih tak lelah
Hanya seruan kerinduan akan damai
Yang tersembunyi dibalik kebekuan matamu
Kurindukan tanya dan curigamu
Kadang menjengkelkan namun tetap kupilih
Menyapamu tiap malam bersama hening
Membawa bidadari gemintang
Mencoba menembus dinding dingin
Dari balik batinmu
Yang selalu tak henti mencari arti
Aku balik bertanya.
Perlukah semua memiliki jawabnya?
Mengapa mata langit muncul diwaktu malam?
Mengapa bulir embun serasa kesejukkan surga?
Aku tak butuh!
Kala sel otak menyapa jantungku
Dan mereka menari tak beraturan
Aku hanya bisa menikmatinya tanpa suara
Layaknya sekarat dalam pesta sunyi
Kabut ini makin tebal,
Daun pun lelah didahan
Mengikhlaskan diri tertiup angin
Lalu jatuh tak berdaya dipelukkan bumi,
Kau tau sungguh, tak mampu
Pena ini terhenti
Kubayangkan genggamanmu terikat kuat
Dan aku dengan bebasnya berteriak
Tanda masih tak lelah
Hanya seruan kerinduan akan damai
Yang tersembunyi dibalik kebekuan matamu
Kurindukan tanya dan curigamu
Kadang menjengkelkan namun tetap kupilih
Menyapamu tiap malam bersama hening
Minggu, 10 April 2011
Max Terbang Di Awan
Rasanya baru kemarin
Dadaku terasa sesak karena pamitmu
Satu episode panjang
Kau pilih untuk dirampungkan
Meski kau berjanji akan melanjutkannya
Lewat skenario lain
Dan peran berbeda yang telah kau sediakan
Hanya untukku
Tapi kepergianmu seperti tak berbekas
Janjimu pupus karena aus
Aku hanya mematung
Menatapmu jauh diatas sana
Kulihat sekilas bayangmu menari
Bebas tak teraih
Mungkin bagimu aku hanyalah janji
Yang hakekatnya hanya untuk diingkari
Demi menjaga hati.
Terbanglah Max, sejauh mungkin
Sampai kau tak lagi mampu
Menatap mataku dibumi
Perih ini makin menjadi
Karena mulutku tak lagi sempat berujar
Dan kaupun tak mampu lagi mendengar tanyaku,
"Apa kabarmu, Max"
Dadaku terasa sesak karena pamitmu
Satu episode panjang
Kau pilih untuk dirampungkan
Meski kau berjanji akan melanjutkannya
Lewat skenario lain
Dan peran berbeda yang telah kau sediakan
Hanya untukku
Tapi kepergianmu seperti tak berbekas
Janjimu pupus karena aus
Aku hanya mematung
Menatapmu jauh diatas sana
Kulihat sekilas bayangmu menari
Bebas tak teraih
Mungkin bagimu aku hanyalah janji
Yang hakekatnya hanya untuk diingkari
Demi menjaga hati.
Terbanglah Max, sejauh mungkin
Sampai kau tak lagi mampu
Menatap mataku dibumi
Perih ini makin menjadi
Karena mulutku tak lagi sempat berujar
Dan kaupun tak mampu lagi mendengar tanyaku,
"Apa kabarmu, Max"
Langganan:
Postingan (Atom)