Label

Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Maret 2011

Semalam Bersama Siva

Tadinya aku berencana untuk langsung pulang seusai mengantarmu di teras depan rumahmu. Lalu kau tawarkan sejenak singgah, untuk melepas penat barang berapa menit. Kupikir lagi ada benarnya, secangkir kopi buatanmu cukup enak. Pasti cukup untuk menjadi bekalku begadang dengan begitu banyak file yang harus kuselesaikan. Dan biasanya kau akan bercerita kejadian yang unik, lucu, seru dari ruang kelas tempat kau bekerja.
Aku kurang begitu suka anak kecil, tapi ceritamu membuatku perlahan menikmati cerita tentang mereka. Kau tau, perkembangan terbaru yang kulakukan adalah menemani nenek tetangga sebelah rumah yang sedang menjaga cucunya dalam kereta bayi, lalu menyapanya "Hai manis, siapa namamu?" Kau tau sungguh, aku tak pernah melakukan itu sebelumnya, menoleh pun tidak. Semua karena ceritamu tentang dunia kecil mereka dengan tingkah polah yang beragam.
Dan malam ini, kembali kau ceritakan anak didikmu sembari menemaniku menikmati kopi tubruk buatanmu. Spontan saja kutanya " Bagaimana kabar beruang teddymu?Si penyanyi mungil?Lantas si sensitif?Apa saja ulah mereka hari ini?" Ya, aku sudah mulai hafal nama mereka karena kau sering menyebutnya. Lalu kaupun berubah layaknya seorang reporter yang sedang melaporkan suatu peristiwa dari TKP. Aku hanya mengamatimu dengan tenang, sambil sesekali menyeruput kopi buatanmu. Aku sangat menikmati lagak gayamu malam ini.
Kau beranjak ke arah meja makan,"Ada roti coklat sisa tadi pagi, mau?". Aku mengangguk, sambil mataku tak lepas dari setiap gerakmu di ruang kecil yang hangat ini. Tiba-tiba saja aku bertanya tentang kabar orang tuamu di Sumatra Utara sana. Tanpa menoleh kearahku, kau menghentikan gerakmu. Sambil membawa roti coklat di atas piring kau melangkah pelan kearahku. Aku merasa roman wajahmu berubah. Aku merasa ada yang salah. Tapi serbuan tanda tanya dikepalaku mungkin akan segera menemukan jawabannya, malam ini.
Kau benar-benar ibarat novel chicklit yang ringan dalam cerita dan mudah ditebak ceritanya. Sejurus kemudian kepalamu tertunduk, tatapanmu jatuh ke lantai. Bahumu berkedik perlahan, lalu meningkat menjadi guncangan yang hebat. Isak tangis mulai meluncur dari bibirmu. Kau terduduk bersimpuh dekat kakiku.
Aku bingung, hanya mampu merasakan miris yang mengiris jantungku, mendadak udara terasa semakin panas dalam ruangan ini, meski AC sedari tadi menyala.
" Maafkan aku Sukma, maaf...maaf..," kata-kata itu seperti mantra kutukan ditelingaku. Dan inilah yang kutakutkan. Kau coba ceritakan padaku dalam balutan nafas panjang pendek, suara tak beraturan keras pelan, sebentar bicara dalam kecepatan tinggi, lalu melemah terbata-bata. Intinya, ceritamu bisa kutangkap jelas. Mereka memintamu pulang. Para paman dan bibimu disana yang selama ini menggantikan posisi orang tuamu sejak mereka pergi selamanya. Mereka bersama - sama mengupayakan pendidikan yang terbaik untukmu, hingga kau meraih gelar sarjana pendidikan sekarang. Mereka mempersiapkan masa depanmu, termasuk seseorang untuk menggantikan mereka bila kelak mereka tak mampu menjagamu lagi. Dan kini, rupanya mereka ingin segera menikmati masa tua dengan tenang dan santai, hingga mereka ingin melakukan tugas mereka yang terakhir yaitu mengantarmu ke gerbang pernikahan. Kau tak mampu mengelak.
Akupun demikian. Hanya bisa membisu. Aku tak bisa menyalahkanmu, aku juga tak bisa memaksamu, dan yang lebih menyakitkan lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankanmu tetap ada dalam setiap rangkaian kisah hidupku.
Kau telah menyiapkan semuanya diam-diam, karena tak ingin aku terluka. Namun taukah kau gadisku tersayang? Itu tidak berhasil! Aku tak sanggup menghitung tiap tetes air mata yang mengaliri wajah mungilmu. Aku mulai beersandiwara, "tenanglah, mungkin itu yang terbaik untuk kita, terutama untukmu,"
" Apa?"
"Ya, aku akan baik-baik saja, kapan rencananya kamu akan pergi?"
" Dua hari lagi,"
" Baik, kita nikmati malam ini sebagai pesta kecil perpisahan kita, OK? Udah, ga usah nangis lagi, kenangan kita terlalu banyak untuk dirusak hanya dengan tangisan semalam."
Aku membual. Aku tau. Malam ini, aku ingin berlama lama menyisir rambutmu yang ikal, lalu kau akan meledekku dengan merias wajahku menjadi badut versimu. Kita akan minum kopi lagi, nonton DVD kesukaan kita berdua, lalu tertidur berpelukan seperti malam-malam lalu.
Tapi malam ini, aku ingin terjaga. Aku tau kau tak sanggup begadang. Dan saat kau pulas, aku akan berlama-lama memandangi wajah manjamu. Kubingkai dalam hati, agar selalu kukenang. Gilanya, aku mengambil gambar wajahmu yang tertidur pulas lewat kamera poselku. Cukup.
Air matamu mengering, namun menyisakan guratan bekas alirannya, kau meringkuk makin dalam. Perlahan, aku beringsut tanpa suara, demi tak ingin merusak mimpimu yang sendu. Berjingkat aku mencari secarik kertas dan pulpen meninggalkan pesan untukmu.
                 " Dearest Siva, terimakasih untuk malam yang hangat, pagi yang cerah lewat senyummu, dan tak lupa kopi buatanmu. Jangan pernah menangis lagi, pelangiku. Agar aku juga tegar mendoakan bahagiamu.
                                                                        Love, Sukmawati "
Aku keluar rumahmu, menatap sekeliling ruang ini sekali lagi, lalu segera berbalik tanpa menoleh lagi, menahan sekuat tenaga agar letupan didadaku tak tumpah menjadi teriakan kesakitan. Begitu kunci terakhir selesai kugunakan, segera kuletakkan diteras rumahmu. Kudorong mobil yang kuparkir di luar rumahmu hingga ke belokkan depan dengan kekuatan yang didorong oleh rasa sakit agar kau tak mendengar kepergianku. Begitu kulihat jarak rumahmu kurasa cukup jauh, aku mulai masuk ke dalam mobil, mengumpulkan sisa kesadaranku, segera kunyalakan mesin, lalu pergi. Dalam perjalanan pulang kerumahku subuh itu, pipiku terasa basah, bibir ataskupun kurasa ada yang mengalir,hangat, asin, anyir. Perih.

Surat Untuk Mar

Jauh - jauh hari kupinta seorang kawan mengajarku aneka kata,
Semata ingin merangkainya menjadi kalimat indah,
Untukmu saja, tentu.

Aku tekuni malam-malamku hanya untuk mencoba
Melukiskanmu dalam kata yang pantas,
Sambil berharap mungkin kau akan membalasnya
Meski sekedar simpul senyum nampak
Karena aku tau, kau tak cukup nyali jika kita berhadapan
Meski kita bukan lawan,
Sejati kawan juga belum.

Aku bahkan telah merancang bentuk sampulnya,
Lalu segera kubeli di toko kecil sebelah rumah,
Berikut kertas surat jingga senada dengan sampulnya,
Warna yang kau suka, kan?
Meski aku tidak terlalu suka warna itu.

Tapi biarlah,toh tidak rugi ini,
Dan aku masih terus mencoba mencari padanan kata yang pas
Untuk melengkapi sampul dan kertas jingga itu.

Namun berhari - hari terasa sia saja,
Aku belum mampu,
Tiap kutanya temanku, ia hanya menggeleng
Pertanda nihil

Niat ini sudah mantap,
Tetap harus kukirim surat untukmu,
Seperti janji yang kuucap dihati

Dan terakhir kali kucoba lagi,
Entah setan darimana tiba-tiba menyeret tanganku
Meraih pulpen di atas meja kusam pojok kamarku,
Kutulis besar-besar meski tak rata
" KAU INDAH, MAR "