Label

Total Tayangan Halaman

Kamis, 01 Desember 2011

What I'm Thinking of...: Tirai

What I'm Thinking of...: Tirai: Tipis menyekat jarak Samarkan rupamu yang mulai pudar Rapuhnya anggun sewarna pucat Namun melambai sesekali Tiap kali tersentuh hembus n...

What I'm Thinking of...: Tirai

What I'm Thinking of...: Tirai

Tirai

Tipis menyekat jarak
Samarkan rupamu yang mulai pudar
Rapuhnya anggun sewarna pucat
Namun melambai sesekali
Tiap kali tersentuh hembus nafasku

Tanpa suara membuka menutup celah
Pun kurang ajar menggelitik wajah
Menyeka bulir-bulir lara pula terkadang
Tetap dalam bisunya
Dan kubiarkan saja ia

Kutamatkan lagi sebentuk wajahmu
Hanya sejauh tirai pucat ini
Tak jarang pasrah saja ia kuremat gelisah
Makin kentara guratan di helai tipisnya
Menanti kapan terberai
Dalam hening, masih.

Kutahan nafas, namun sesak menyergap
Menyeruak ia tak tahan
Menghambur ke arah tirai nan koyak
Jalinan benangnya serak tak beraturan
Rupamu lebih nampak
Tapi kurasa makin menyerpih lara
Sekejap tiraipun lantak
Makin membisu.

Rabu, 03 Agustus 2011

Tentang Kritik Dan Saran

Kita cenderung mudah meluncurkan kata atau kalimat ketidakpuasan dari bibir kita dan membentuknya menjadi kritikan. Tapi seringkali deretan kritik itu terhenti karena tidak ada solusi atau saran yang menyeimbangkannya.
Mungkin ada baiknya kritik itu dikemas dengan cara yang lebih baik. Bukan berarti harus bermanis kata. Namun lebih kepada berbagi pengalaman. Biasanya lebih mudah orang menerima kritik, solusi dan saran berkaca dari pengalaman orang lain, apalagi jika solusi yang diterapkan memang pernah membawa hasil, hingga layak dicoba dan dibagikan pada yang lain. Bagi yang memberi kritik, sebaiknya juga ingat, bahwa kritik juga sebenarnya adalah rujukkan pada diri sendiri agar tidak mengalami kritk serupa, atau setidaknya lebih siap bila berhadapan dengan masalah serupa.
Namun juga perlu diperhatikan, bagaimana cara kita bertutur dalam menyampaikan kritik atau masukan pada orang lain. Kita harus ingat, adakah orang yang mau disalahkan? Saya rasa tidak ada. Setidaknya kita perlu mengapresiasi buah pikir atau karya orang lain, sekalipun itu kurang di mata kita. Karena bagaimanapun, saat seseorang meluangkan waktunya untuk memikirkan karya dan usahanya untuk orang lain, itu adalah langkah yang baik.
Demikian pula saat kita menerima kritik dan saran. Memang ada yang kurang membangun, tapi kembali lagi pada kita, siapkah membuka diri akan pandangan apapun, termasuk yang mungkin berseberang dengan pendapat kita pribadi? Ingat juga, kadang cambuk agar kita mampu berkembang lebih baik, terkadang bentuknya atau warnanya bukan yang kita mau. Tapi jika kita hanya ingin melihat, mendengar dan berkarya, akankah kita lekas berkembang dan kaya nuansa?
Seringkali terjadi contoh bahwa ada orang yang tidak mau dikritik karena ia tahu kelemahanya tapi tak ingin mengakuinya. Dan tanpa sadar, itu membuat kita jadi penipu dan pecundang bagi diri sendiri. Apakah kita akan bersikap demikian?

Sketsa Ind 2 ( Tobat Nasional ).mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - Sketsa Ind 2 ( Tobat Nasional ).mp3

Sketsa Ind 2 ( Tobat Nasional ).mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh - <a href="http://www.4shared.com/audio/MR4WvwWC/Sketsa_Ind_2___Tobat_Nasional_.html" target="_blank">Sketsa Ind 2 ( Tobat Nasional ).mp3</a>

Sabtu, 07 Mei 2011

Tentang Mujizat

Seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa hal yang indah dan mengesankan ketika mendapati peristiwa yang luar biasa terjadi dalam kehidupan kita. Tapi kita sering lupa, untuk menerima mujizat yang luar biasa, maka lebih dahulu kita mensyukuri mujizat yang sederhana. Mungkin bisa dimulai dari ketika kita bangun pagi dan menyadari udara yang masuk lewat nafas kita adalah nafas yang baru, meski mungkin tidak berbeda dengan hari kemarin.
Selamat menikmati!

Jumat, 06 Mei 2011

phill collins - separate lives.

Tentang Cara Memandang

Beberapa orang membandingkan langkahnya dengan orang yang sukses, dengan harapan diapun kelak akan mengikuti jejak kesuksesan itu. Sebagian lagi membandingkan langkahnya dengan orang yang dipandang tidak sukses, dengan kekhawatiran yang menyebabkannya takut untuk melangkah.

Tapi hanya sedikit orang yang melihat keberhasilan dan kegagalan dengan jernih. Dengan demikian ketika ia mengalami kegagalan, ia akan mencari cara untuk bangkit menuju kesuksesan, dan ketika ia sukses, ia akan berusaha untuk mempertahankan kesuksesannya agar jangan mengulang kegagalan yang sama dimasa lalu, serta tak lupa menyiapkan alternatif langkah yang akan dia lakukan jika ia menghadapi masalah, apalagi sampai gagal. Dengan begitu, ia tidak akan terlena dalam kegagalan ataupun keberhasilan.

Kamis, 28 April 2011

What I'm Thinking of...: Tentang Belajar Mempercayai Diri

What I'm Thinking of...: Tentang Belajar Mempercayai Diri: "Ibaratkan saat ini kita sedang berhenti sejenak di salah satu anak tangga. Tentunya kita tidak berada disana tiba-tiba tanpa ada satu langka..."

Tentang Belajar Mempercayai Diri

Ibaratkan saat ini kita sedang berhenti sejenak di salah satu anak tangga. Tentunya kita tidak berada disana tiba-tiba tanpa ada satu langkah awal. Semua pasti harus dimulai dari anak tangga pertama, terbawah. Kitapun menapaki tangga pertama karena memiliki keyakinan, bahwa tangga itulah yang akan membantu kita naik ketingkat yang lebih tinggi.

Namun ada kalanya kita mengalami gangguan saat menapaki tangga, kaki kita kesemutan, kram, keseleo atau terpeleset, hingga harus turun dari tangga terakhir yang kita pijak. Mungkin karena kita lengah, sehingga kurang hati-hati. Atau mungkin juga karena kita terburu-buru ingin segera tiba dipuncak, sedangkan daya tahan kita masih kurang tangguh. Atau bisa jadi karena kita sebenarnya takut pada ketinggian, sehingga sekali saja menoleh kebawah, kaki kita lantas gemetar. Semua itu menjadikan kita nyaris menyerah, hingga mengurangi semangat kita yang tadinya menggebu-nggebu. Lalu kita mungkin akan berhenti ditangga itu, sambil menimbang-nimbang untuk tetap disana, turun atau melanjutkan perjalanan ke puncak.

Ternyata saat ketakutan kita mulai melanda, tanpa kita duga ada orang lain yang juga sedang menapaki tangga yang sama dengan kita. Ada yang tidak peduli dan terus saja berjalan, ada yang berhenti tapi menceramahi kita yang terdengar seperti cemoohan yang mematahkan keyakinan kita. Ada juga yang hanya diam. Sampai akhirnya kita bertemu seseorang yang akhirnya mau menemani kita lebih lama, untuk mendengar keluhan kita dan bahkan menyemangati kita, terlebih jika orang tersebut amat meyakini bahwa kaki kita cukup kuat untuk terus melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi.


Biasanya karena ada input seperti ini yang membuat kita kembali berani dan mengerahkan segala kemampuan yang selama ini tidak kita sadari, hingga akhirnya kita berani untuk maju lagi. Tapi sebenarnya yang lebih utama bukan semata tangga yang kita daki atau penyemangat yang tak henti ada disamping kita, tapi tanpa kita mau mencoba melihat kedalaman diri kita dan memberikan kesempatan untuk diri kita sendiri, semua itu akan menjadi sia-sia.


Kadang kita kurang bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita. Kita lebih sibuk menenggelamkan diri dengan meratapi kelemahan, sehingga kita lupa jika kita memiliki potensi yang juga harus kita olah dan kembangkan agar menjadi orang yang memiliki kekuatan untuk melangkah lebih jauh dan lebih tinggi. Saat kita tidak pernah belajar mengenal siapa diri kita, maka kita juga kesulitan untuk mempercayai diri kita sendiri. Maka dari itu, berilah ruang untuk diri kita dan meyakininya bahwa kita layak mencoba dan memberi diri kesempatan untuk melakukan banyak hal yang berbeda dan sungguh-sungguh. Suatu saat, ketika apa yang kita lakukan dipandang bermanfaat oleh orang lain, liriklah sedikit anak tangga dibelakang yang telah kita lewati, saat itulah kita akan menyadari sampai dimana kemampuan dan keyakinan dapat menuntun kita lebih jauh dari yang kita pikir sebelumnya.


Tentu, kita tak ingin berlama-lama berhenti, bukan? Mari saling menguatkan dalam langkah menuju ujung ketinggian.

Rabu, 27 April 2011

Tentang Keberanian Memilih

Orang yang berangkat perang, tidak akan berani jika tidak memiliki bekal senjata dan strategi yang memadai, sama saja mati konyol. Pun begitu, bila semuanya dia miliki namun tetap kalah, setidaknya ia kalah terhormat dan bukan menyerah begitu saja.

Sama halnya dengan keseharian kita. Di saat tertentu kita harus mengambil keputusan dengan pilihan yang sama sulitnya. Tentunya kita harus berpikir akan akibat dari setiap pilihan serta pada pilihan yang mana kita masih akan sanggup berdiri.
Kata berani ataupun sanggup, menyimpan makna bahwa kita mampu menghadapi sesuatu yang buruk, dan bukan hanya sekedar memilih.


Dengan menimbang lebih bijak, setidaknya kita tahu makna dibalik setiap proses, dan siap menghadapi resiko apapun dari setiap keputusan dan dalam hal apapun. Bahkan sekalipun ada rasa khawatir dan takut, karena yang terpenting adalah usaha untuk keluar melawan takut itu.

Minggu, 24 April 2011

Datanglah Segera!

(pour te amo madra)

Senin, 11 April 2011

Cerita Malam ( Untuk Mardikun )

Malaikat malam telah kembali
Membawa bidadari gemintang
Mencoba menembus dinding dingin
Dari balik batinmu
Yang selalu tak henti mencari arti


Aku balik bertanya.
Perlukah semua memiliki jawabnya?
Mengapa mata langit muncul diwaktu malam?
Mengapa bulir embun serasa kesejukkan surga?
Aku tak butuh!


Kala sel otak menyapa jantungku
Dan mereka menari tak beraturan
Aku hanya bisa menikmatinya tanpa suara
Layaknya sekarat dalam pesta sunyi

Kabut ini makin tebal,
Daun pun lelah didahan
Mengikhlaskan diri tertiup angin
Lalu jatuh tak berdaya dipelukkan bumi,

Kau tau sungguh, tak mampu 
Pena ini terhenti
Kubayangkan genggamanmu terikat kuat
Dan aku dengan bebasnya berteriak 
Tanda masih tak lelah


Hanya seruan kerinduan akan damai
Yang tersembunyi dibalik kebekuan matamu
Kurindukan tanya dan curigamu
Kadang menjengkelkan namun tetap kupilih
Menyapamu tiap malam bersama hening

Minggu, 10 April 2011

Max Terbang Di Awan

Rasanya baru kemarin
Dadaku terasa sesak karena pamitmu
Satu episode panjang
Kau pilih untuk dirampungkan

Meski kau berjanji akan melanjutkannya
Lewat skenario lain
Dan peran berbeda yang telah kau sediakan
Hanya untukku

Tapi kepergianmu seperti tak berbekas
Janjimu pupus karena aus
Aku hanya mematung
Menatapmu jauh diatas sana
Kulihat sekilas bayangmu menari
Bebas tak teraih
Mungkin bagimu aku hanyalah janji
Yang hakekatnya hanya untuk diingkari
Demi menjaga hati.

Terbanglah Max, sejauh mungkin
Sampai kau tak lagi mampu
Menatap mataku dibumi
Perih ini makin menjadi
Karena mulutku tak lagi sempat berujar
Dan kaupun tak mampu lagi mendengar tanyaku,
"Apa kabarmu, Max"

Minggu, 27 Maret 2011

Semalam Bersama Siva

Tadinya aku berencana untuk langsung pulang seusai mengantarmu di teras depan rumahmu. Lalu kau tawarkan sejenak singgah, untuk melepas penat barang berapa menit. Kupikir lagi ada benarnya, secangkir kopi buatanmu cukup enak. Pasti cukup untuk menjadi bekalku begadang dengan begitu banyak file yang harus kuselesaikan. Dan biasanya kau akan bercerita kejadian yang unik, lucu, seru dari ruang kelas tempat kau bekerja.
Aku kurang begitu suka anak kecil, tapi ceritamu membuatku perlahan menikmati cerita tentang mereka. Kau tau, perkembangan terbaru yang kulakukan adalah menemani nenek tetangga sebelah rumah yang sedang menjaga cucunya dalam kereta bayi, lalu menyapanya "Hai manis, siapa namamu?" Kau tau sungguh, aku tak pernah melakukan itu sebelumnya, menoleh pun tidak. Semua karena ceritamu tentang dunia kecil mereka dengan tingkah polah yang beragam.
Dan malam ini, kembali kau ceritakan anak didikmu sembari menemaniku menikmati kopi tubruk buatanmu. Spontan saja kutanya " Bagaimana kabar beruang teddymu?Si penyanyi mungil?Lantas si sensitif?Apa saja ulah mereka hari ini?" Ya, aku sudah mulai hafal nama mereka karena kau sering menyebutnya. Lalu kaupun berubah layaknya seorang reporter yang sedang melaporkan suatu peristiwa dari TKP. Aku hanya mengamatimu dengan tenang, sambil sesekali menyeruput kopi buatanmu. Aku sangat menikmati lagak gayamu malam ini.
Kau beranjak ke arah meja makan,"Ada roti coklat sisa tadi pagi, mau?". Aku mengangguk, sambil mataku tak lepas dari setiap gerakmu di ruang kecil yang hangat ini. Tiba-tiba saja aku bertanya tentang kabar orang tuamu di Sumatra Utara sana. Tanpa menoleh kearahku, kau menghentikan gerakmu. Sambil membawa roti coklat di atas piring kau melangkah pelan kearahku. Aku merasa roman wajahmu berubah. Aku merasa ada yang salah. Tapi serbuan tanda tanya dikepalaku mungkin akan segera menemukan jawabannya, malam ini.
Kau benar-benar ibarat novel chicklit yang ringan dalam cerita dan mudah ditebak ceritanya. Sejurus kemudian kepalamu tertunduk, tatapanmu jatuh ke lantai. Bahumu berkedik perlahan, lalu meningkat menjadi guncangan yang hebat. Isak tangis mulai meluncur dari bibirmu. Kau terduduk bersimpuh dekat kakiku.
Aku bingung, hanya mampu merasakan miris yang mengiris jantungku, mendadak udara terasa semakin panas dalam ruangan ini, meski AC sedari tadi menyala.
" Maafkan aku Sukma, maaf...maaf..," kata-kata itu seperti mantra kutukan ditelingaku. Dan inilah yang kutakutkan. Kau coba ceritakan padaku dalam balutan nafas panjang pendek, suara tak beraturan keras pelan, sebentar bicara dalam kecepatan tinggi, lalu melemah terbata-bata. Intinya, ceritamu bisa kutangkap jelas. Mereka memintamu pulang. Para paman dan bibimu disana yang selama ini menggantikan posisi orang tuamu sejak mereka pergi selamanya. Mereka bersama - sama mengupayakan pendidikan yang terbaik untukmu, hingga kau meraih gelar sarjana pendidikan sekarang. Mereka mempersiapkan masa depanmu, termasuk seseorang untuk menggantikan mereka bila kelak mereka tak mampu menjagamu lagi. Dan kini, rupanya mereka ingin segera menikmati masa tua dengan tenang dan santai, hingga mereka ingin melakukan tugas mereka yang terakhir yaitu mengantarmu ke gerbang pernikahan. Kau tak mampu mengelak.
Akupun demikian. Hanya bisa membisu. Aku tak bisa menyalahkanmu, aku juga tak bisa memaksamu, dan yang lebih menyakitkan lagi, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankanmu tetap ada dalam setiap rangkaian kisah hidupku.
Kau telah menyiapkan semuanya diam-diam, karena tak ingin aku terluka. Namun taukah kau gadisku tersayang? Itu tidak berhasil! Aku tak sanggup menghitung tiap tetes air mata yang mengaliri wajah mungilmu. Aku mulai beersandiwara, "tenanglah, mungkin itu yang terbaik untuk kita, terutama untukmu,"
" Apa?"
"Ya, aku akan baik-baik saja, kapan rencananya kamu akan pergi?"
" Dua hari lagi,"
" Baik, kita nikmati malam ini sebagai pesta kecil perpisahan kita, OK? Udah, ga usah nangis lagi, kenangan kita terlalu banyak untuk dirusak hanya dengan tangisan semalam."
Aku membual. Aku tau. Malam ini, aku ingin berlama lama menyisir rambutmu yang ikal, lalu kau akan meledekku dengan merias wajahku menjadi badut versimu. Kita akan minum kopi lagi, nonton DVD kesukaan kita berdua, lalu tertidur berpelukan seperti malam-malam lalu.
Tapi malam ini, aku ingin terjaga. Aku tau kau tak sanggup begadang. Dan saat kau pulas, aku akan berlama-lama memandangi wajah manjamu. Kubingkai dalam hati, agar selalu kukenang. Gilanya, aku mengambil gambar wajahmu yang tertidur pulas lewat kamera poselku. Cukup.
Air matamu mengering, namun menyisakan guratan bekas alirannya, kau meringkuk makin dalam. Perlahan, aku beringsut tanpa suara, demi tak ingin merusak mimpimu yang sendu. Berjingkat aku mencari secarik kertas dan pulpen meninggalkan pesan untukmu.
                 " Dearest Siva, terimakasih untuk malam yang hangat, pagi yang cerah lewat senyummu, dan tak lupa kopi buatanmu. Jangan pernah menangis lagi, pelangiku. Agar aku juga tegar mendoakan bahagiamu.
                                                                        Love, Sukmawati "
Aku keluar rumahmu, menatap sekeliling ruang ini sekali lagi, lalu segera berbalik tanpa menoleh lagi, menahan sekuat tenaga agar letupan didadaku tak tumpah menjadi teriakan kesakitan. Begitu kunci terakhir selesai kugunakan, segera kuletakkan diteras rumahmu. Kudorong mobil yang kuparkir di luar rumahmu hingga ke belokkan depan dengan kekuatan yang didorong oleh rasa sakit agar kau tak mendengar kepergianku. Begitu kulihat jarak rumahmu kurasa cukup jauh, aku mulai masuk ke dalam mobil, mengumpulkan sisa kesadaranku, segera kunyalakan mesin, lalu pergi. Dalam perjalanan pulang kerumahku subuh itu, pipiku terasa basah, bibir ataskupun kurasa ada yang mengalir,hangat, asin, anyir. Perih.

Surat Untuk Mar

Jauh - jauh hari kupinta seorang kawan mengajarku aneka kata,
Semata ingin merangkainya menjadi kalimat indah,
Untukmu saja, tentu.

Aku tekuni malam-malamku hanya untuk mencoba
Melukiskanmu dalam kata yang pantas,
Sambil berharap mungkin kau akan membalasnya
Meski sekedar simpul senyum nampak
Karena aku tau, kau tak cukup nyali jika kita berhadapan
Meski kita bukan lawan,
Sejati kawan juga belum.

Aku bahkan telah merancang bentuk sampulnya,
Lalu segera kubeli di toko kecil sebelah rumah,
Berikut kertas surat jingga senada dengan sampulnya,
Warna yang kau suka, kan?
Meski aku tidak terlalu suka warna itu.

Tapi biarlah,toh tidak rugi ini,
Dan aku masih terus mencoba mencari padanan kata yang pas
Untuk melengkapi sampul dan kertas jingga itu.

Namun berhari - hari terasa sia saja,
Aku belum mampu,
Tiap kutanya temanku, ia hanya menggeleng
Pertanda nihil

Niat ini sudah mantap,
Tetap harus kukirim surat untukmu,
Seperti janji yang kuucap dihati

Dan terakhir kali kucoba lagi,
Entah setan darimana tiba-tiba menyeret tanganku
Meraih pulpen di atas meja kusam pojok kamarku,
Kutulis besar-besar meski tak rata
" KAU INDAH, MAR "

Kamis, 24 Februari 2011

Memahami Reaksi Aksi Massa

Akhir - akhir ini kita disuguhi oleh maraknya aksi massa menghiasi layar televisi. Berita seputar ketidakpuasan masyarakat akan proses pemilihan Ketua Umum PSSI 2011 sangat menyita perhatian. Dunia persepak bolaan tanah air sedang panas. Bermula dari menghangatnya simpati masyarakat terhadap prestasi yang diraih oleh Timnas, membuat masyarakat menaruh harap akan adanya perkembangan yang signifikan pula di tubuh menejemen PSSI. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan prestasi yang telah diraih Timnas dalam Piala Asia 2011 lalu, serta kemajuan Timnas dimasa mendatang.

Suara - suara yang menuntut akan adanya reformasi ditubuh PSSI sebenarnya sudah lama terdengar, seiring dengan kemajuan prestasi Timnas. Namun, pasca Piala Asia suhu mulai memanas manakala dengan angkuhnya PSSI memboikot pemain Timnas yang turun berlaga membantu klub untuk ikut ambil bagian dalam Indonesian Super League. Dengan entengnya PSSI mencoret nama pemain yang tidak menurut versi mereka, dan dengan kekanak - kanakan mengajukan ancaman boikot dengan cara hendak melaporkan pada pihak FIFA.

Ternyata itu saja belum cukup. Entah bagaimana cara berpikir Ketua PSSI kita saat ini, begitu melihat adanya kompetitor lain dalam bursa pemilihan calon Ketua PSSI yang diharapkan oleh khalayak luas akan membawa angin segar dalam perkembangan dunia persepakbolaaan di tanah air, dengan entengnya memodifikasi peraturan sedemikian rupa untuk menggugurkan calon lain. Situasi seperti ini tentu saja semakin mempertebal rasa ketidakpuasan masyarakat pecinta bola kita terhadap kinerja jajaran petinggi PSSI dan tentunya Pemerintah terkait seharusnya bisa berbuat lebih untuk mencegah polemik ini agar masyarakat bisa lebih tenang.

Situasi berkembang menjadi lebih panas. Reformasi yang diinginkan berubah menjadi harapan akan revolusi. Disini terlihat, masyarakat kita yang tadinya mengkotakkan diri sesuai dengan klub yang ada ditempat yang sama dengan mereka, menjadi bersatu padu dari segala arah merubung PSSI baik di kantor pusat maupun yang bergerak di daerah asal masing - masing. Dalam satu suara mereka menginginkan segera berakhirnya sikap pemerintah, serta kebebalan Sang Ketua PSSI periode ini.


Tentunya ini fenomena yang menarik, manakala kondisi negara kita yang sedang tidak sehat, terutama kondisi ekonomi masyarakat kebanyakkan, tetapi animo dan kecintaan mereka terhadap kemajuan persepakbolaan negeri ini membuat mereka agak mengabaikan tersebut. Bisa dibayangkan, berapa banyak biaya yang harus mereka tanggung hanya untuk bisa menyampaikan harapan dan meluapkan emosi agar masalah ini segera direspon oleh pihak terkait.


Sampai dititik ini, kita masih juga belum melihat tindakan apa yang akan dilakukan pemerintah untuk menyelesaikannya. Kita hanya disuguhi sikap reaktif mereka yang buru-buru mengupayakan adanya penyelamatan kantor PSSI serta membubarkan para pendemo. Hal ini bukan tindakan signifikan yang terkait langsung dengan solusi pemilihan calon ketua PSSI, seperti yang dipertanyakan masyarakat. Sampai kapan situasi ini dibiarkan berlangsung? Apa yang sedang ditunggu?


Sempat terbesit dipikiran bahwa ini memang sengaja dibuat demikian, untuk mengalihkan fokus masyarakat terhadap kasus yang lebih besar. Tetapi menurut saya, semakin dibiarkannya masalah ini, akan semakin membuka mata masyarakat kita akan kegagalan sistem pemerintahan dalam memulihkan kembali kepercayaan masyarakat. Kita akan semakin jelas melihat, betapa permainan monopoli ini telah merusak seluruh bidang pemerintahan. Semua diatur oleh legitimasi uang. Celakanya, ini merqambah bidang olahraga yang dikenal memiliki jargon untuk menjunjung tinggi sportivitas. Sportivitas seperti apa yang sedang terjadi sekarang ini hanyalah spotivitas semu yang dapat dibeli oleh mereka yang punya pendukung finansial yang kuat.


Pada akhirnya kita diajak menunggu, sampai dimana kebebalan ini berlanjut. Besar harapan saya agar suporter bola khususnya dan masyarakat di Indonesia tetap solid untuk memperjuangkan revolusi ini, serta masih ada sedikit harap agar pemerintah mengkaji ulang aturan yang berlaku dengan lebih berani. Karena yang harus mereka takuti adalah masyarakatnya, bukan FIFA.


Yuk...,duduk berharap cemas demi mendengar kabar terbaru dari mereka..
ngopi lagi ahhh...