Kita cenderung mudah meluncurkan kata atau kalimat ketidakpuasan dari bibir kita dan membentuknya menjadi kritikan. Tapi seringkali deretan kritik itu terhenti karena tidak ada solusi atau saran yang menyeimbangkannya.
Mungkin ada baiknya kritik itu dikemas dengan cara yang lebih baik. Bukan berarti harus bermanis kata. Namun lebih kepada berbagi pengalaman. Biasanya lebih mudah orang menerima kritik, solusi dan saran berkaca dari pengalaman orang lain, apalagi jika solusi yang diterapkan memang pernah membawa hasil, hingga layak dicoba dan dibagikan pada yang lain. Bagi yang memberi kritik, sebaiknya juga ingat, bahwa kritik juga sebenarnya adalah rujukkan pada diri sendiri agar tidak mengalami kritk serupa, atau setidaknya lebih siap bila berhadapan dengan masalah serupa.
Namun juga perlu diperhatikan, bagaimana cara kita bertutur dalam menyampaikan kritik atau masukan pada orang lain. Kita harus ingat, adakah orang yang mau disalahkan? Saya rasa tidak ada. Setidaknya kita perlu mengapresiasi buah pikir atau karya orang lain, sekalipun itu kurang di mata kita. Karena bagaimanapun, saat seseorang meluangkan waktunya untuk memikirkan karya dan usahanya untuk orang lain, itu adalah langkah yang baik.
Demikian pula saat kita menerima kritik dan saran. Memang ada yang kurang membangun, tapi kembali lagi pada kita, siapkah membuka diri akan pandangan apapun, termasuk yang mungkin berseberang dengan pendapat kita pribadi? Ingat juga, kadang cambuk agar kita mampu berkembang lebih baik, terkadang bentuknya atau warnanya bukan yang kita mau. Tapi jika kita hanya ingin melihat, mendengar dan berkarya, akankah kita lekas berkembang dan kaya nuansa?
Seringkali terjadi contoh bahwa ada orang yang tidak mau dikritik karena ia tahu kelemahanya tapi tak ingin mengakuinya. Dan tanpa sadar, itu membuat kita jadi penipu dan pecundang bagi diri sendiri. Apakah kita akan bersikap demikian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar